|
Sabtu, 31 Juli 2010 , 12:13:00
 
MANADO- Keyakinan para pasangan calon akan ampuhnya money politics untuk mendapatkan simpati masyarakat makin menjadi. Di hari terakhir kampanye mereka makin jor-joran mengucurkan uang dan sembako kepada para pemilih.
Kemarin, misalnya, terpantau ada setidaknya 3 pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Manado yang melakukan aksi tersebut. Hebohnya, kegiatan itu dilakukan di kelurahan dan kecamatan yang sama.
Calon yang satu hanya membagi-bagikan uang Rp10 ribu kepada tiap orang dewasa. Calon satunya lagi mengalahkannya dengan selembar uang lima puluhan ribu yang dimasukkan dalam amplop. Tak mau kalah, calon lainnya menyerahkan beras tanpa uang.
Hal serupa juga akan dilakukan pasangan calon tadi malam. Seorang tim sukses calon tersebut mengaku akan menyalurkan sogokan itu kemarin malam. Tiap keluarga mendapatkan uang Rp100 ribu plus beras 20 kg. "Itu sudah saya lakukan sejak 6 bulan lalu. Penyaluran sebulan sekali," ungkap pria yang ditugasi melayani dan 'memelihara' wajib pilih jagoannya di salah satu kelurahan di Kecamatan Wanea tersebut.
Dia juga mengatakan dalam masa tenang 1-3 Agustus ini bantuan tersebut akan dilipatgandakan jumlah dan frekuensinya. "Saya sudah dapat perintah siap-siap menyalurkan bantuan ekstra mulai 1 Agustus sampai 3 Agustus. Jumlah beras tetap, tapi uang jadi Rp250 ribu per keluarga," jelasnya.
Modus operandi yang dilakukannya sangat sederhana. Dia punya daftar pemilih yang sudah dibinanya sejak awal penyaluran bantuan tersebut. Dia tinggal menyerahkan bantuan tersebut door to door. "Tak pernah ada halangan. Selama ini mulus-mulus saja," ungkapnya, saat ditanyakan apa tak takut aksinya diketahui pengawas pemilu.
Ironisnya, seorang penerima yang sempat menerima 'bantuan' itu mengaku senang dengan kondisi tersebut. Dia menyatakan selalu buka telinga lebar-lebar untuk mendengarkan kabar di mana akan ada pembagian yang dinilainya sebagai berkat itu.
"Tadi (kemarin) pagi saya cuma sempat menerima dari dua pasangan calon. Saya terlambat terima kabar ada pembagian beras. Waktu sampai di lokasi, beras sudah habis terbagikan. Kalau tidak, lumayan, dapat duit 60 ribu plus beras," tutur pria yang berdomisili di Malalayang itu.
Aksi Sinterklas para calon ini tak lepas dari dugaan mulai mengalir dan digelontorkannya dana ratusan miliaran rupiah oleh 38 pasangan calon yang bertanding di 7 pilkada di kabupaten/kota dan provinsi. Jika tiap calon butuh duit Rp10 M saja dalam pencalonannya, maka minimal ada Rp380 M duit yang dibelanjakan para pasangan calon. Sayangnya, aksi yang marak terjadi di masyarakat ini belum pernah terpantau ditindaki instansi berwenang.
Tak hanya di Manado. Di seluruh kabupaten/kota se-Sulut terinformasi juga terjadi praktek jual beli suara. Bahkan, pejabat, PNS, Lurah dan Kepala Desa serta Kepala Lingkungan terlibat aktif. .(sto)
|