Selasa, 07 September 2010  
Hot Topics >> Ekonomi - Nusantara ** BARU ** Interaksi antar pembaca Manado Post dapat dilakukan melalui akun jejaring sosial Facebook >>
Penantian para calon pelamar CPNS di Sulut segera terjawab, menyusul sudah ada penetapan formasi CPNS Pemprov Sulut, serta kabupaten/kota se-Sulut. • Dua terdakwa dana hibah bencana alam Talaud 2007-2008, WT alias Tine dan HM alias Mandiri hanya bisa diam mendengarkan keterangan saksi-saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Reinhard Tololiu SH dan Cornelis Heydemans SH. Dari keterangan para saksiTine dan Mandiri dinilai yang bertanggungjawab kasus tersebut.
 
   
Sabtu, 31 Juli 2010 , 12:05:00
 
HARUMKAN PENDIDIKAN SULUT: Dr Max Imbang, Jemmy Mewengkang, Gubernur SH Sarundajang, Christian Emor, Ronal Korompis, Ir Johni Emor, drg Engni Lotisna, dan Ny M Mewengkang-Korompis di gubernuran Bumi Beringin, kemarin. Foto lain, si jenius saat didaulat memberikan sambutan di aula kantor Diknas Sulut.
Oleh: Suhendro Boroma
suhendro@mdopost.com

ABG setinggi sekitar 1,75 meter itu berhenti di pintu keluar nomor lima Bandara Sam Ratulangi Manado, kemarin siang (30/7). Dari kejauhan, pria kelahiran Gorontalo 11 Desember 1993 itu berjalan santai. Raut wajahnya datar. Biasa saja. Tak dibuat-buat. Natural.
Christian George Emor namanya. Seperti ABG pada umumnya, tas gaul berwarna gelap menempel di punggungnya. Jaket hitam membalut tubuhnya, kacamata tebal bergagang hitam mengapit wajahnya. Mungkin kacamata inilah penanda siswa kelas XI SMA Lokon ini seorang jenius.
Tapi orang-orang tak hirau. Kalau ada yang sejenak melirik, mungkin itu karena ada yang mengenal Dr Max Imbang MPd, Kepala Sekolah SMA Lokon yang mendampingi Christian dalam perjalanan pulang dari Jakarta. Begitu langkah Christian dan Max terhenti, orang-orang mulai ramai-ramai melirik.
Di depan imigration desk Ketua Yayasan Pendidikan St Nikolaus yang menaungi SMA Lokon Ronald Korompis siap menyambut. Mengenakan batik bermotif kecoklatan, Ronald ditemani Jemmy Mewengkang, Ketua Badan Pelaksana Harian Yayasan Pendidikan St Nikolaus, sejumlah guru, dan dua murid sekolah di kaki gunung Lokon Tomohon itu.
Asisten I Sekprov Sulut Jeffry Korengkeng SH dan Kadis Diknas Drs HR Makagansa turut serta. Saat sudah berpapasan dengan Christian dan Max, dua siswa yang membawa bunga menahan langkah. Christian cepat-cepat menanggalkan jaketnya. Dari tas gaulnya dia mengambil jaket biru, seragam resmi SMA Lokon, juga topi bertuliskan nama sekolah paling favorit di Sulut itu. Perlahan dia kenakan, lalu didaulat memakai medali.
Christian, agaknya, tak menyangka permintaan itu. Belum sempurna benar jaketnya, dia mengambil medali yang diminta. Dari tas gaulnya, medali itu langsung dilingkarkan di leher. Terpampanglah Medali Emas yang diraih Christian di Olimpiade Internasional Fisika ke-41 di Zagreb, Kroasia, 17-25 Juli 2010.
Medali itu diikat tali berwarna merah-putih-biru. Di dada Christian tampak bersinar medali emas yang untuk pertama kalinya diraih siswa Sulawesi Utara sepanjang provinsi ini berdiri. Bulat seukuran kue cucur sedang, kira-kira berdiameter 10 cm. Decak kagum tak terbendung. Orang-orang di sekitar spontan berkerumun.
Tapi Christian tidak berubah. Tetap dengan wajah alamiah, biasa saja. Mula-mula Christian disapa dan dipeluk Ronald Korompis. Lalu HR Makagansa mengalungkan bunga. Jeffry Korengkeng menyematkan bunga di dada Max Imbang, sedang Ronald Korompis memberi setangkai bunga tangan kepada Christian.
Para penjemput bergiliran memberi ucapan selamat dan memeluk Christian dan Max Imbang. Semua sumringah, juga bangga. Penumpang yang lalu-lalang di depan gate 4 dan 5 memberi keleluasaan bagi ‘seremoni sederhana’ penyambutan Christian George Emor, pengharum nama Sulut dan Indonesia di kompetisi fisika tingkat dunia. Pihak Perum Angkasa Pura (PAP) Sam Ratulangi Manado memberi tempat khusus  bagi penyambut yang sudah memadati area kedatangan sejak pukul 12.15 Wita.
Christian pantas memperoleh penghormatan itu. Semula lulusan SMP Negeri 1 Gorontalo itu akan dijamu dan keluar melalui VIP Bandara Sam Ratulangi. Ronald Korompis, pengurus Yayasan Pendidikan St Nikolaus dan sejumlah guru SMA Lokon sudah siap di VIP sejak pukul 12.30 Wita. Tak tega mengecewakan ratusan penjemput, Ronald Korompis dan Christian Emor memilih keluar dari pintu kedatangan umum.
Seperti biasa, penjemput berjubel di depan pintu kedatangan. Mereka tidak secara khusus menjemput Christian. Ratusan siswa SMA Lokon berjejer di samping pintu utama kedatangan, tidak langsung berpapasan dengan Christian saat keluar dari pintu kedatangan. Tapi orang-orang yang tak secara khusus datang menjemput itu spontan bertepuk tangan saat melihat Christian. Seperti memberikan standing applause. Memberi apresiasi, penghargaan atas prestasi yang diraih anak ketiga pasangan Ir Johni Emor dan drg Engni Lotisna itu.
Bertemu dengan rekan-rekannya, Christian terharu. Mula-mula dia memeluk erat ibunya, Drg Engni Lotisna dan kakaknya. Beberapa menit mereka berangkulan, melepas rindu sekaligus terharu penuh kebanggaan. Lalu Christian menyalami teman-temannya, menebar senyum, dan foto bersama sambil memegang spanduk “Selamat Datang” dari SMA Lokon.
Dari bandara, arak-arakan mobil penjemput Christian menuju Kantor Diknas Sulut. Di ruang pertemuan kantor beralamat Jl Sam Ratulangi itu, Christian disambut meriah. Tepuk tangan panjang menyapa, mulai dari pintu hingga Christian duduk. Peraih medali perak di Olimpiade Nasional Fisika tingkat SMA di Jakarta, 2009, itu didapuk duduk di depan bersama HR Makagansa, Ronald Korompis, dan Max Imbang. Dia juga didaulat memberi ‘kesaksian’.
‘’Saya tak menyangka bisa meraih medali emas,’’ katanya. Salah satu kunci sukses, di kompetisi yang diikuti 376 partisipan dari 80 negara itu Christian melaluinya dengan senang. ‘’Saya belajar dengan senang,’’ katanya.
Hanya saja, sang pembimbing membuatnya sempat tegang. Hasil ‘ujian’ teori dan praktik sengaja disembunyikan. ‘’Saya tak diberi info. Begitu pengumuman saya meraih medali emas. Ini sungguh menyenangkan,’’ ujarnya.
‘’Sukses ini bukan cuma karena saya. Ini sunguh-sungguh karunia dan campur tangan Tuhan,’’ katanya disambut tepuk tangan. Di Gubernuran Bumi Beringin, hal yang sama diulangi peraih perunggu di ajang Olimpiade Fisika tingkat Asia (AphO) ke-11 di Taipei, April 2010 itu. ‘’Ini semua tak lepas dari karunia Tuhan. Saya setuju dan berharap menjadi imluwan yang bermoral, beretika dan memancarkan kebaikan sebagaimana namanya, Christian,’’ kata SH Sarundajang (SHS).
Gubernur Sulut itu memberi apresiasi khusus, melakukan penyambutan kehormatan di kediaman resmi, Bumi Beringin Manado.  SHS menyapa dan merangkul Christian, Ronald, Max, dan kedua orang tua Christian, Johni dan Engni, di pelataran rudis. Lalu, mengajak Christian dan Ronald duduk mendampingi gubernur saat ‘seremoni’ penyambutan berlangsung.
Berbeda dengan acara resmi lainnya, kali ini bebas dari prokoler dan basa-basi. Didahului penyampaian singkat Kadis Diknas HR Makagansa, gubernur boleh dikata merangkap pada acara sederhana itu: memberi sambutan, mewawancarai Christian, sekaligus menjadi pemandu acara. Tak ada kekakuan. Tak ada formalitas. Tak ada pembatasan.
Gubernur menciptakan suasana informal, akrab, bersahaja, dan memperlakukan Christian dan kedua orang tunya bak keluarga. ‘’Atas nama pemerintah dan masyarakat Sulut saya salut dan menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada Christian, anak kita, atas prestasi yang diraihnya,’’ kata SHS.
Gubernur pilihan pertama rakyat Sulut itu memberi apresiasi yang tinggi atas usaha, pengorbanan dan konsistensi Keluarga Ronald Korompis-Mewenangkang membangun dan mengelola SMA Lokon. Banyak tantangan, bahkan pesisme yang menyertai. Tak sedikit ujian yang dihadapi. ‘’Tapi Pak Ronald dan keluarga begitu gigih mewujudkan mimpinya, melahirkan anak Sulawesi Utara berprestasi tingkat dunia,’’ katanya.
‘’Hari ini, mimpi itu mulai terwujud,’’ ujar SHS. “Christian, siswa SMA Lokon, anak kita, telah mengharumkan nama sekolah, daerah Sulawesi Utara, bahkan nama Indonesia. Ini prestasi yang membanggakan.”
Sebagai satu-satunya sekolah yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Sulut, SHS akan menyampaikan secara resmi prestasi yang dicapai siswa SMA Lokon ini. Pun akan disampaikan secara resmi ke DPRD, dan menjadi ikon pemacu prestasi siswa di Sulut. ‘’Saya sangat berharap SMA Lokon, juga sekolah-sekolah ldi Sulut  melahirkan banyak christian yang lain,’’ katanya.
Ronald Korompis memahami kehendak dan keinginan gubernur, atau warga Sulut pada umumnya. ‘’Mulai akhir tahun ini SMA Lokon akan menjadi pusat pendidikan Yohanes Surya di Indonesia Timur untuk mendidik dan menyiapkan siswa-siswa berprestasi dunia,’’ katanya.
Yayasan Yohanes Surya sudah terbukti melahirkan banyak siswa Indonesia berhasil meraih medali emas, perak dan perunggu di ajang Olimpiade Internasional Matematika dan Fisika. Sejak berkiprah hingga kini, umumnya siswa-siwa berprestasi internasional itu berasal dari Indonesia Barat. ‘’Pusat pendidikan di SMA Lokon ingin membuktikan siswa-siswa dari Indonesia Timur tidak kalah,’’ kata Ronald.
Christian Emor menjadi contoh, sekaligus bukti warga Sulut, Indonesia Timur umumnya, bisa mencapai prestasi tingkat dunia. ‘’Di Sulut maupun di Indonesia Timur banyak potensi dan bakat seperti yang dimiliki Christian,’’ katanya.
Gubernur SHS dan Ronald berpandangan sama: pendidikan kunci utama untuk kemajuan. ‘’Jika anda ingin memanen hasil bulanan, tanamlah biji. Jika ingin hasil tahunan, tanamlah pohon. Tapi jika ingin memanen hasil 100 tahun atau lebih, tanamlah pendidikan,’’  kata SHS mengutip nasihat Konghuchu.
Itu sebabnya, semua anak di Sulut harus mengecap bersekolah, dan yang berprestasi dibantu bersekolah setinggi-tingginya. Christian Emor, atas prestasinya meraih medali emas di ajang Olimpiade Internasional Fisika ke-41 ini berhak beasiswa penuh hingga jenjang S-3. Nilainya sekitar USD100 ribu, sekira Rp100 miliar. ‘’Kuliah  di manapun yang dipilih, pemerintah akan menanggungnya,’’ kata SHS.
Pemprov Sulut sendiri memberi bantuan pendidikan hinggga Christian tamat S-1. Diknas Sulut menyerahkan bantuan tunai senilai Rp15 juta.
‘’Apa yang diraih Christian mudah-mudahan menjadi pemicu bagi siswa-siswa di Sulut untuk meraih prestasi tingkat dunia,’’ kata Ronald. Pendiri dan pengelola Yayasan Pendidikan St Nikolaus Tomohon itu bertekad mengembalikan kejayaan kualitas sumberdaya Sulut, mengikuti kebesaran dan ketenaran Dr Sam Ratulangi. “Di tahun 1950-an dan 1960-an, hampir tak ada keputusan penting di Indonesia tak melibatkan putra Sulut. Kejayaan itu saya ingin kembali terwujud,’’ kata Ronald.
Bagi SHS, mencapai kejayaan itu sesuatu keniscayaan. Tetapi bukan dengan cara pendidikan gratis. ‘’Kita lakukan pendidikan dengan sistem biaya subsidi silang. Anak seorang gubernur harus membayar lebih dibandingkan dengan anak seorang petani. Bagi anak petani pendidikan kita gratiskan, tapi anak seorang pengusaha harus bayar lebih. Itu proporsional,’’ katanya.
Muara dari semua itu, bukan cuma untuk meraih prestasi akademik semisal meraih medali emas di ajang olimpiade internasional. Atau mengembalikan kejayaan kualitas sumberdaya manusia Sulut. Lebih dari itu, agar generasi muda Sulut memiliki pendidikan dengan landasan moral, spiritual dan intelektual yang kuat. Sebuah generasi yang tidak cuma berambisi meraih prestasi individual. Tetapi membuat kehidupan sosial dan komunal makmur, sejahtera dan menyenangkan bagi semua orang.****
 
    JPNN.COM | Standing Applause untuk Christian Emor
  • Print
  • Email
  • RSS
  • Track Back
  • Digg
  • Twitter
  • LintasBerita
  • Facebook
 
Komentar Anda untuk berita/artikel "Standing Applause untuk Christian Emor"
 
   
  + Other News / Category     
 
Gunakan akun Facebook Anda di forum ini
 
 
   
 
Home Sulawesi Utara Nusantara Daerah Ekonomi Internasional Olahraga Hiburan Teknologi Gaya Hidup