|
Sabtu, 31 Juli 2010 , 12:02:00
 
MANADO–Pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sulawesi Utara mulai tercoreng dengan aksi kampanye hitam (black campaign). Tindakan tidak santun dan tidak sehat bagi masyarakat ini jika tidak ditindak, akan mengganggu Pilkada damai pada, Selasa 3 Agustus nanti.
Informasi yang diperoleh wartawan Koran ini tadi malam, kalangan politisi hitam melalui para kaki tangannya sudah dua hari terakhir, bergentayangan membagi-bagikan pemflet berisi beragam fitnah yang ditujukan kepada pasangan SHS–BERHASIL. Fatalnya, mereka memasuki desa desa dan membodohi warga yang lugu dengan menebar isu isu negative.
Namun bersyukur, informasi yang dihimpun dari pedesaan, warga makin pinter dan justru mengaku muak dengan segala bentuk dusta dan fitnah yang disebarkan pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.
Salah satu isu yang kembali diangkat oleh penebar racun fitnah bahwa SHS terkait dengan sebuah organisasi terlarang. Isu tersebut diakui bukan hal baru, tetapi sering muncul ke permukaan setiap kali SHS mendapatkan promosi atau rencana promosi jabatan.
Namun semua itu terbantahkan dengan pengakuan para tua-tua atau tokoh-tokoh masyarakat Sulawesi Utara. Antara lain mantan Gubernur Sulawesi Utara dua periode (1985 – 1995) CJ Rantung. “Saya tahu dan yakin betul siapa Sinyo (panggilan akrab SHS), sehingga saya mempromosikannya menjadi Wali Kota Administratif Bitung. Juga sebelum Sinyo mendapat promosi, saya lebih dulu meminta pendapat berbagai pihak di daerah dan pejabat-pejabat di pusat, seperti dari BAKIN dan TNI. Hal seperti ini sudah menjdi prosedur tetap, setiap kali mengangkat pejabat pejabat pada jabatan strategis. Ternyata, Sinyo bersih, dan tidak ada persoalan, serta tidak terkait dengan masalah-masalah yang diisukan kepadnya,” ujar Rantung, mengenang apa yang dilakukannya kepada Sarundajang saat ia masih menjabat Gubernur Sulut tahun 1985-1995.
CJ Rantung yang semasa aktif tentara berpangkat Mayjen TNI AD mengatakan, Sinyo ketika diangkat dan ditetapkan menjadi Wali Kota Bitung, terpilih dari antara sejumlah calon yang diusulkan oleh staf dan masyarakat. “Saya memilihnya, karena selain cerdas, dan rajin, Sinyo termasuk pejabat langka, yaitu berani membuat terobosan, suka berinisiatif, sehingga membuat dia unggul dari calon calon lain,” tutur Rantung, Kamis (30/7) malam.
Setelah memangku jabatan Wali Kota Bitung pada tahun 1986, lanjut Rantung, kepadanya ditugaskan untuk segera menaikkan status Kota Administratif Bitung menjadi kota madya. Pada waktu itu tidak segampng sekarang. Namun ternyata hanya selang dua tiga tahun kemudian, Bitung telah naik status menjadi kota madya penuh.
Sementara kota kota administratif lain seperti Cimahi dan sejumlah kota di tempat lain yang potensinya lebih kuat dari Bitung pada waku itu belum berubah. “Sampai-sampai Mendagri Rudini waktu itu mengatakan, Bitung dan Sinyo memang lain. Ucapan Rudini tersebut sebetulnya menunjuk pada kemampuan dan keunggulan serta kecerdasan SHS,” kenang Rantung.
Menurut Rantung, kalau betul ada sesuatu dengan Sinyo, dapat dipastikan ia akan diberitahu oleh Jenderal Try Sutrisno yang pernah menjadi KSAD, Panglima ABRI, dan bahkan Wapres. Rantung dan Jenderal Try Sutrisno, dua sahabat kental yang akrab sejak masih di Akademi Militer Nasional Magelang.
Max Wilar, pengamat sosial politik yang pada era 1966 Ketua Departemen Indoktrinasi & Propaganda Kestuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) dan Sekjen Gerakan Siswa Kristen Indonesia (GSKI) Kabupaten Minahasa menambahkan, sebagai pimpinan KAPPI pada masa perjuangan 1966 lalu, dia tidak pernah menemukan keterkaitan Sarundajang dengan organisasi terlarang. “Saya tiap hari berkeliling dan membaca data data politik, saya tidak menemukan ada nama Sarundajang yang terkait partai terlarang dan dengan hal hal negatif lainnya. Yang benar SHS nasionalis sejati,” tegas Wilar.
Max Wilar mengatakan, mereka yang menyebar fitnah lewat selebaran gelap, berarti membodohi rakyat. Mereka juga tidak berani menunjukkan muka, hanya bergerak di belakang layar sambil menebar racun kebodohan dan dusta kepada rakyat. “Kalau benar, silahkan tampil dan tunjukkan muka, jangan perdayai rakyat dengan dusta dusta dan fitnah keji dari persembunyian,” tandas Wilar.
Sementara Mantan Ketua DPRD Sulut dua periode, Syahrial Damopolii yang dihubungi terpisah mengatakan, para pengedar selebaran fitnah dan dusta orangnya itu itu saja dari dulu. Polisi dan para penegak hukum dengan gampang dapat memetakannya, dan karena sudah dilakukan berulang-ulang kali yang dampaknya menteror masyarakat dengan fitnah keji, dusta, maka sudah sepatutnya polisi menindaknya.
Bahan bahan fitnah ini selalu muncul setiap kali SHS sedang berupaya sesuatu, terutama saat ada gagasan untuk promosi jabatan, selalu dimunculkan oleh orang orang tertentu untuk mendapatkan uang dengan cara mendatangi para pesaing dari SHS. Tim dari para pesaing SHS yang memang mengetahui belakangan ini makin keteter karena makin tertinggal dalam survei dengan senang hati menerima bahan bahan ini untuk dimanfaatkan dalam rangka menurunkan citra SHS.
“Saya khawatir ada di antara pengedar pamflet itu justru orang-orang berindikasi dan punya hubungan dengan partai terlarang PKI,” kata tokoh masyarakat Bolmong ini, sambil mengimbau polisi untuk menangani pencemaran nama baik ini.
Ny Lenny, seorang ibu setengah umur mengatakan, ’’Bapak SHS maju terus saja, kami tidak percaya dengan semua fitnah itu, kami lebih percaya kepada SHS yang telah berbuat banyak bagi rakyat dan daerah.
Syahrial Damopolii dan Max Wilar sependapat mengimbau rakyat agar menangkap sendiri para pengedar selebaran gelap dan menyerahkannya ke polisi ntuk diusut, karena cara cara itu bukan cara orang Sulut yang berkarakter gentlemen. “Mengedarkan selebaran gelap adalah, cara kotor, terhina, dan merusak keharmonisan rakyat yang hidup dalam damai. Politik boleh berbeda, tetapi persaudaraan harus tetap terjaga, jadi tangkap dan serahkan ke polisi para pengedar pamflet gelap yang membodohi rakyat,” tanda keduanya.
SHS sendiri ketika diminta pendapatnya mengatakan, “Saya sudah memaafkan mereka yang menghina, memfitnah saya dan keluarga dengan isu isu dusta dan fitnah keji. Saya berdoa agar Tuhan mengampuni mereka, saya juga tidak memendam dendam kepada mereka semua.” (adv)
|