|
Sabtu, 31 Juli 2010 , 12:02:00
 
Debat kandidat Gubernur-Wakil Gubernur Sulut, di Convention Hall Novotel Gran Kawanua, tadi malam berlangsung seru. Empat kandidat pasangan, Ramoy Markus Luntungan (RML)-Hamdi Paputungan (HP), Stefanus Vreeke Runtu (SVR)-Marlina Moha Siahaan (MMS), Henny Wulut (HW), dan SH Sarundajang (SHS)-Djouhari Kansil (DK) tampil meyakinkan dengan berbagai argumennya. Sayang, yang mereka sampaikan masih sebatas buah pikiran atau retorika.
Ekonomi sekaligus peneliti senior INDEP Dr Aviliani yang tampil sebagai panelis mengajukan pertanyaan soal cara para kandidat meningkatkan daya saing industri. SVR yang mendapat giliran pertama menyatakan, banyak industri yang potensial dikembangkan di Sulut, namun bergantung pada SDM. “Kalaupun kita kekurangan SDM yang benar-benar expert, untuk jangka menengah kita akan sekolahkan SDM yang kita punya atau jangka pendek kita datangkan dari luar,” kata Bupati Minahasa ini.
Henny Wulur juga menyinggung soal pentingnya SDM dan kualitas iman SDM tersebut. “Menciptakan SDM yang berkualitas memang tidak mudah. Tapi kita harus memiliki cara bagaimana meningkatkan kemampuannya untuk mengelola potensi industri,” kata pengacara, yang tadi malam tampil sendiri itu.
Sementara pasangan SHS, Djouhari Kansil menyatakan bahwa mereka akan menerapkan kebijakan produksi bahan baku. Sektor perikanan, pertanian, dan perkebunan menjadi andalan untuk diambil bahan bakunya yang selanjutnya diolah secara modern. “Bahan baku sangat penting untuk mendukung daya saing industri,” katanya.
“Tapi banyak pengalaman menyebutkan bahwa banyak fakultas pertanian tutup karena tidak ada peminatnya, padahal lulusannya dibutuhkan untuk mengelola industri pertanian itu,” ujar Aviliani, mengajukan pertanyaan kembali. “Kita akan mendidik SDM sesuai potensi daerah dan berdasarkan kearifan lokal,” bela Kansil.
Sementara Ramoy menyatakan bahwa argobisnis dan agroindustri harus dikelola dari hulu ke hilir. “Industri juga bicara pasar. Artinya, antara produk dan pasar harus selaras,” ujar Ramoy. Bagaimana dengan SDM. “Mesti ada kerjasama dengan expert dari luar. Sekalian juga mesti transfer teknologi,” ujar Ramoy.
Panelis kedua, sosiolog Dr Jong Ohoitimur mengajukan pertanyaan bagaimana para kandidat memelihara simbol Torang Samua Basudara dengan tagline Sulut sulit disulut meski Sulut berada di sentra konflik SARA.
Menurut Henny, mesti ada pengingkatan kualitas iman dan SDM, dan harus menumbuhkan rasa kasih. Sedangkan SHS berpendapat, perlu ada pemahaman soal etika dan moral melalui pedidikan agama. Harus juga ada keharmonisan di seluruh elemen masyarakat, serta perlu sokongan dari pemerintah dan aparat.
Bagi RML, Sulut yang salut, Sului sulit untuk disulut menggambarkan keberagaman dalam konteks wawasan kebangsaan Bhineka Tunggal Ika, dan dalam bingkai NKRI. Sementara SVR berpendapat, kondisi ini tercipta karena warga Sulut tidak mempersoalakan suku, agama, atau golongan. Dengan semangat kebersamaan seperti yang jadi semangat masing-masing suku yang ada di Sulut, Sulut tetap akan sulit disulut.
Di sesi berikut debat antar kandidat, SHS mendapat giliran pertama, dan bertanya kepada Henny Wulut. SHS menanyakan, jika nanti terpilih, akan mengambil peran apa dalam bidang ekonomi? “Saya akan menghadirkan investor untuk masuk ke Sulut, berdayakan SDM. Jika kualitas SDM tercipta investasi masuk. Dan juga mempermudah urusan investor,” kata Henny. “Kalau perencanaan ekonomi seperti apa?” tanya SHS. “Ekonomi kerakyatan,” jawab Henny.
Henny balik bertanya soal komitmen SHS yang menolak pertambangan. “Contohnya MSM. Sekarang saya lihat bapak izinkan MSM. Bagaimana janjinya?” ujar Henny. “Pertambangan salah satu potensi. MSM dari dulu kita ragukan AMDALnya, tapi bukan menolak tambang. Tapi setelah Menteri LH memberi izin, maka kita harus menyetujui. Yang paling penting sebenarnya adalah pembuangan tailing bukan ke laut, tapi ke darat,” ujar SHS, meyakinkan.
Kemudian giliran RML menanyai SVR dengan pertanyaan soal model dan pengelolaan ekonomi kerakyatan serta pertanian yang sama kita concern itu. Menurut SVR, untuk memberdayakan ekonomi kerakyatan akses modal usaha kecil dan menengah harus mendapat dukungan dari lembaga keuangan. “pemerintah juga harus memberi stimulan agar usaha-usaha itu maju,” jawab SVR.
Sementara SVR mengajukan pertanyaan tentang konsep apa yang bakal ditempul untuk menjaga budaya yang beragam. “Kita kedepankan komitmen kebangsaan dan kita melihat perbedaan menjadi perekat dari semua sisi,” kata Ramoy.
Putaran berikut SVR mengajukan pertanyaan konsep ekonomi kerakyatan yang bakal ditempuh memimpin Sulut ke depan. Dengan mantap Henny menjawab program yang harus pro rakyat. “Contohnya, bagaimana caranya meningkatkan taraf hidup PKL,” ujar Henny
Balik Henny bertanya, bahwa setelah dua periode menjadi Bupati Minahasa, persoalan enceng gondok belum pernah terselesaikan. Dengan lugas SVR menjawab bahwa enceng gondok bukanlah tanaman yang gampang dikendalikan. Sebab, sebagai gulma, enceng gondok tumbuh sangat. “Makanya kita bikin kompos, dan ada beberapa usaha lain,” kata Vreeke.
Henny mengusulkan agar dibuat mebel. Tapi menurut Vreeke, daya saing produk memang masih kalah dengan yang ada di Pulau Jawa, terutama soal harganya.
Babak selanjutnya Dr Aviliani bertanya lagi soal penyerapan anggaran yang lamban sehingga ekonomi daerah terganggu. Katanya, di satu sisi Keppres 80/2003 jadi kendala yang menyebabkan banyak yang tak mau jadi pimpro. “Bagaimana caranya mengatasinya?” tanya Aviliani. Menurut Ramoy, caranya adalah azas kepatuhan APBD. “Artinya APBD harus ditetapkan lebih cepat, bulan November diketuk dan Januari langsung action,” ujar Ramoy
Sementara Dr Jong menanyakan tentang budaya dan keberagaman yang menciptakan keselarasan kehidupan bermasyarakat di Sulut. Menurut Vreeke, budaya kebersamaan yang sudah mengakar di Sulut ini harus dijaga terus, dan nanti ditularkan serta ditawarkan menjadi model kerukunan di Indonesia.
Sedangkan buat Henny, Dr Jong melontarkan pertanyaan bahwa di Sulut sangat menjaga budaya dan orang-orangnya rajin beribadah, tapi di Sulut masih ada KKN, ketidakadilan, human trafficking. “Bagaimana mengurangi ketimpangan sosial itu? tanya Dr Jong. “Meningkatkan kualitas iman dan SDM. Harus jujur dan penuh kasih,” jawab Henny.
Sementara kepada SHS, Dr Aviliani menanyakan komitmennya untuk menangani pembiayaan infrastruktur, peningkatan produksi pangan terkait dengan inflasi, dan pengelolaan energi listrik tanpa menunggu PLN.
Menurut SHS, Sulut saat ini sudah berhasil menurunkan inflasi dari 8,3 persen menjadi 2,3 persen. Kita meningkatkan produksi pertanian untuk menghindari pembelian dari luar. Sementara untuk listrik, potensi kita berupa air dan geothermal, dan Desember nanti Sulut akan ketambahan 50 MW dari PLTU Amurang. Untuk infrastruktur, SHS menyentil bahwa ada pihak swasta yang bakal membangun jalan tol Manado-Bitung yang membuka akses ke Pelabuhan Bitung.
Di babak akhir, Ralph Tampubolon menanyakan apakah semua kandidat siap kalah. Satu suara, seluruhnya menyatakan siap menerima kekalahan. Namun, ada yang menyisipkan, seperti Hamdi dan Henny, pernyataan bahwa mereka akan terima kekalahan jika proses pemilihan berlangsung fair. “Kalau ada kecurangan, kita akan tempuh jalur hukum sesuai aturan berlaku,” kata Hamdi.(irz)
|