|
Sabtu, 31 Juli 2010 , 11:26:00
 
BITUNG — Salah satu solusi yang bisa mengatasi keengganan guru mengajar di Lembeh adalah dengan merekrut warga setempat. Hal itu diyakini bisa membuat guru betah mengajar di kawasan pulau itu. "Kalau gurunya asal Lembeh, besar kemungkinan mereka akan bertahan," ujar Kepala SMPN 15 Bitung, Dra Kesya Abram, kemarin.
Menurutnya, kekurangan tenaga guru di Lembeh sangat memprihatinkan. Di sekolah pimpinannya, misalnya, hanya ada 3 orang gur. Dirinya yang berstatus guru PNS dan 2 guru honorer. "Ini jumlah yang sangat sangat minim, apalagi sekolah ini juga punya SD," tuturnya.
Menurutnya, pengalaman selama ini menunjukkan para guru yang bukan orang Lembeh hanya bisa bertahan beberapa bulan. Setelah itu, mereka bermohon untuk dipindahkan. Apalagi, klaimnya, banyak guru yang enggan ditugaskan di Lembeh. "Padahal, PNS harus siap ditempatkan di mana saja," tuturnya.
Dia memperkirakan ini tak lepas dari kesejahteraan para guru. Tunjangan, misalnya, tak dibedakan antara yang mengajar di daerah kepulauan dengan perkotaan. Padahal, guru yang mengajar di kawasan kepulauan harus mengeluarkan biaya transportasi lebih besar. “Saya tiap hari merogoh kocek Rp50 ribu setiap hari untuk ongkos transportasi," ungkapnya.
Menanggapi ini, Kadis Dikpora Herman Rompis mengatakan tahun ini akan diprioritaskan penerimaan guru asal Lembeh. "Ini instruksi langsung Pak Wali (Wali Kota Hanny Sondakh, red)," tuturnya.
Soal tunjangan, Wali Kota menyatakan aspirasi itu akan ditindaklanjuti sesegera mungkin. Dia menyatakan bisa memaklumi kendala yang dihadapi guru di kepulauan dalam melaksanakan tugas mereka, dibanding gur di perkotaan.(cia/ddt)
|