Selasa, 07 September 2010  
Hot Topics >> Ekonomi - Nusantara ** BARU ** Interaksi antar pembaca Manado Post dapat dilakukan melalui akun jejaring sosial Facebook >>
Penantian para calon pelamar CPNS di Sulut segera terjawab, menyusul sudah ada penetapan formasi CPNS Pemprov Sulut, serta kabupaten/kota se-Sulut. • Dua terdakwa dana hibah bencana alam Talaud 2007-2008, WT alias Tine dan HM alias Mandiri hanya bisa diam mendengarkan keterangan saksi-saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Reinhard Tololiu SH dan Cornelis Heydemans SH. Dari keterangan para saksiTine dan Mandiri dinilai yang bertanggungjawab kasus tersebut.
 
   
Senin, 26 Juli 2010 , 08:12:00
 
Oleh Arrazi (Opo) Hasan Jan SE MSi
(Doctor Candidate; Dosen Fakultas Ekonomi Unsrat; Alumni Fekon Unsrat; Alumni UGM; Pemerhati masalah rica di Kota Manado)

CABE rawit merupakan komoditas sayuran yang hampir sebagian besar dibutuhkan oleh masyarakat Kota Manado. Komoditas ini dikonsumsi oleh masyarakat Kota Manado, baik dalam bentuk segar maupun olahan. Secara individu, konsumsi cabe rawit bisa dikatakan dalam jumlah kecil, namun secara agregat konsumsi terhadap komoditas ini merupakan dalam jumlah besar. Besar kecilnya pasokan cabe rawit di sentra perdagangan Kota Manado, mempengaruhi harga yang ditawarkan oleh pedagang cabe rawit di Kota Manado. Pada saat pasokan berkurang maka harga komoditas tersebut mengalami lonjakan, demikian pula sebaliknya. Pada musim panen raya, umumnya kekuatan pasar lemah sehingga harga cabe rawit di pasaran akan rendah. Hal ini terjadi karena banyaknya jumlah cabe rawit yang beredar di pasaran tidak sebanding dengan permintaan. Pada saat musim panen raya, harga cabe rawit di tingkat petani berfluktuasi setiap hari, bahkan setiap jam. Perkembangan harga cabe rawit cenderung ditentukan di tingkat pedagang besar. Melalui jaringannya, pedagang besar lebih memiliki kemudahan untuk memperoleh informasi harga di tingkat konsumen akhir, yaitu sentra perdagangan di Kota Manado. Kondisi harga cabe rawit di sentra perdagangan Kota Manado lebih bervariasi. Harga normal cabe rawit di Kota Manado mencapai Rp 5.000.- per kg, lonjakan harga tertinggi cabe rawit di Kota Manado mencapai Rp 150.000,- per kg. Dalam lingkup nasional, masalah cabe rawit pernah dibahas dalam sidang Kabinet Terbatas bidang Ekuwasbang dan Indag di Binagraha. Di sisi lain, krisis moneter yang melanda Indonesia sejak tahun 1997 telah menghancurkan berbagai sektor usaha. Namun, sektor agribisnis merupakan salah satu sektor yang tidak terkena imbas krisis tersebut. Dari berbagai usaha yang banyak ditawarkan di sektor agribisnis tersebut, salah satunya adalah agribisnis cabe, terutama cabe rawit. Bertanam cabe rawit menjadi sangat menarik bagi investor, terutama kalangan masyarakat yang terkena imbas PHK akibat krisis moneter. Dari berbagai jenis hortikultura sayuran, cabe rawit dinilai sebagai produk yang mempunyai harga paling tinggi dan umurnya tergolong genjah sehingga modal cepat kembali. Tingginya fluktuasi harga cabe rawit di pasar-pasar tradisional Kota Manado sering terjadi dalam jangka pendek, sehingga dengan terjadinya fluktuasi harga dari komoditas cabe rawit, mendapat keluhan dari masyarakat Kota Manado, terutama mereka yang doyan mengkonsumsi masakan pedas. Permintaan cabe rawit di Kota Manado meliputi permintaan masyarakat Kota Manado, hotel, restoran dan usaha-usaha industri kecil. Secara umum, pasikan cabe rawit di Kota Manado berasal dari kabupaten-kabupaten di Provinsi Gorontalo, seperti Kabupaten Pohuwato, Boalemo dan Bone Bolango. Daerah-daerah ini, merupakan sentra produksi cabe rawit di Provinsi Gorontalo dan sebagian berasal dari Kabupaten Bolaang Mongondow, Palu, Makassar dan Surabaya. Saat ini pemerintah Provinsi Gorontalo telah mengembangkan varietas unggulan yaitu Malita FM. Varietas tersebut sudah bisa menghasilkan buah  pada umur tiga bulan, dan kemampuan produksi varietas ini mencapai tiga tahun. Untuk wilayah Sulawesi, Provinsi Gorontalo merupakan produksi cabe rawit terbesar. Kapasitas produksi cabe rawit di Provinsi Gorontalo mampu bersaing dengan produksi cabe rawit di Provinsi Sulawesi Selatan. Di tingkat nasional produksi cabe rawit di Indonesia masih didominasi oleh Provinsi Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pasokan cabe rawit di Kota Manado berada di kisaran tujuh ton sampai dengan sepuluh ton perhari. Pasokan cabe rawit sebesar tujuh ton perhari merupakan pada kondisi normal. Sedangkan pasokan cabe rawit lebih dari sepuluh ton perhari pada kondisi, dimana masyarakat diperhadapkan dalam menyambut hari-hari besar keagamaan. Ada dua pasar tradisional sebagai distributor cabe rawit di Kota Manado, yaitu pasar tradisional Karombasan dan pasar tradisional Bersehati. Pada pasar tradisional Karombasan, pasokan komoditas ini bisa mencapai lima belas ton perhari. Namun yang bisa dipasarkan kepada para pedagang pengecer di Kota Manado hanya pada kisaran tiga sampai dengan empat ton perhari. Permintaan cabe rawit oleh para pedagang pengecer berasal dari pasar tradisional Karombasan, pasar tradisional Bahu dan pasar tradisional Orde Baru. Sedangkan, sebelas sampai dengan dua belas ton, dikirim ke daerah-daerah, seperti: Maluku Utara, Ambon, dan Papua (Timika). Pasokan cabe rawit di sentra perdagangan pasar tradisional Bersehati berada pada kisaran empat ton perhari sampai dengan enam ton perhari. Selain permintaan cabe rawit dari para pedagang di sentra perdagangan pasar Bersehati itu sendiri, permintaan juga berasal dari para pedagang pengecer di pasar tradisional Tuminting. Fluktuasi harga cabe rawit di Kota Manado disebabkan karena beberapa faktor yang mempengaruhi: pertama, faktor-faktor yang bersifat kuantitatif, yaitu masalah kelangkaan pupuk, tarif dasar listrik, harga benih, upah buruh tani dan luas lahan. Kelangkaan pupuk, naiknya harga benih dan naiknya upah buruh tani dapat menghambat petani dalam meningkatkan hasil produksi cabe rawit bahkan terdapat kecenderungan petani tidak menanam. Besar kecilnya luas lahan mempengaruhi tingkat produksi cabe rawit. Naiknya tarif dasar listrik membuat cost penyimpanan cabe rawit meningkat, dengan demikian mempengaruhi harga cabe rawit di tingkat konsumen. Kedua, adalah faktor-faktor yang bersifat kualitatif, yaitu musim hujan dan menghadapi hari-hari besar keagamaan. Pada saat musim hujan kapasitas produksi cabe rawit di sentra produksi mengalami penurunan. Musim hujan merupakan suatu kondisi yang tak terduga oleh para petani di sentra produksi karena mereka bekerja sebagai petani masih mengandalkan pada kondisi iklim, sehingga pasokan ke sentra perdagangan di pasar-pasar tradisional Kota Manado berkurang. Ketiga, adalah kegiatan pemasaran. Lembaga pemasaran sangat membantu dan memudahkan petani dalam menjual hasil panennya. Pada umumnya, petani tidak menjual sendiri atau mengalami kesulitan dalam menjual hasil produksinya ke pasar-pasar tradisional di Kota Manado. Karena keterbatasan modal yang dimiliki, petani tidak memiliki fasilitas alat transportasi, gudang penyimpanan, maupun gudang pengepakan dan kegiatan lainnya yang berkaitan dengan pemasaran hasil panen. Keterbatasan tersebut mendorong para petani menjual hasil panennya kepada lembaga pemasaran yang memiliki fasilitas lebih memadai. Dalam kegiatan pemasaran buah cabe rawit dari titik produsen sampai ke konsumen terdapat cukup banyak lembaga pemasaran yang berperan. Jumlah lembaga pemasaran tersebut berpengaruh terhadap harga jual di tingkat petani dan harga jual di tingkat konsumen akhir. Harga jual yang tinggi di tingkat petani dapat diperoleh apabila petani menjual cabe rawit dengan hanya melibatkan sedikit lembaga pemasaran atau memperpendek rantai pemasaran. Rantai pemasaran yang pendek juga menguntungkan lembaga pemasaran dan konsumen. Lembaga pemasaran dapat memperoleh keuntungan yang wajar dan konsumen akan mendapatkan harga yang murah atas buah cabe rawit yang dibelinya. Dengan demikian, maka daya serap pasar cukup kuat karena dengan harga yang terjangkau daya beli konsumen akan menjadi cukup kuat. Dengan demikian, apabila ketiga komponen tersebut dapat berjalan dengan lancar dan wajar, maka harga cabe rawit di sentra perdagangan Kota Manado tidak mengalami lonjakan harga yang tinggi.*
 
    JPNN.COM | Derived Demand Cabe Rawit (Rica) di Kota Manado
  • Print
  • Email
  • RSS
  • Track Back
  • Digg
  • Twitter
  • LintasBerita
  • Facebook
 
Komentar Anda untuk berita/artikel "Derived Demand Cabe Rawit (Rica) di Kota Manado"
 
   
  + Other News / Category     
 
Gunakan akun Facebook Anda di forum ini
 
 
   
 
Home Sulawesi Utara Nusantara Daerah Ekonomi Internasional Olahraga Hiburan Teknologi Gaya Hidup