MAGNET WISATAWAN: Tang Sin menjadi penarik bagi wisatawan local maupun mancanegara. Nampak Tang Sin yang nama aslinya Fong King Siang diarak di atas Kio oleh pengikut Tridharma Minggu (28/2).
RITUAL suci Goan Siao atau disebut dengan Cap Go Meh, selalu menjadi atraksi yang dinantikan semua warga Sulut. Tahun ini, untuk Kota Manado upacara yang digelar dua minggu setelah Hari Imlek dipusatkan di Klenteng Kwang Kong.
TERIK sinar matahari lagi ganas-ganasnya menjilat Kota Manado. Awan yang biasa menaungi bumi, Minggu (28/2) siang kemarin itu enggan menepi. Saat itu, jarum jam menunjukkan pukul 13.00 WITA. Tapi lautan manusia makin membesar, menyemut dan berdesak-desakan di sekitar Klenteng Kwang Kong, yang letaknya di samping kanan Kantor Kodim Kelurahan Pinaesaan, Kecamatan Wenang. Di sepanjang jalan dari arah klenteng yang terletak di sisi utara jalan raya, menuju Jalan DI Panjaitan ribuan pasang mata ingin menyaksikan dari dekat keluarnya Tang Sin dari klenteng Kwang Kong. Warga dari segala penjuru Kota Manado, Minahasa hingga Bolmong raya ingin menyaksikan upacara Cap Go Meh atau Toa Pe Kong di kompleks pecinan.Kebetulan Cap Go Meh tahun ini, Klenteng tertua Bang Hing Kiong tidak bisa keluar Tang Sin, hanya Klenteng Kwang Kong yang direstui, itupun hanya satu tang sin. Dari dalam klenteng, aroma dupa dan kemenyan bunyi menyeruak hingga keluar klenteng. Musik khas upacara Cap Go Meh terus didendangkan tanpa henti. Dari dalam kuil para pengikut Tridharma mengenakan busana putih-putih, tanpa alas kaki.
Di luar klenteng penonton tetap sabar menunggu. Anak kecil banyak yang tidur di pangkuan orang tuanya. Ada juga digendong dan sebagian merengek minta dibeli minuman. Sementara di jalanan kendaraan dari arah Tuminting, Wawonasa yang melalui jembatan Megawati dan Mahakam serta Banjer dan Paal Dua menuju pusat kota tersendat-sendat akibat padatnya penonton.
Dan setelah beberapa jam menunggu, sekira pukul 16.00 WITA, dari dalam kuil yang menjorok ke dalam, keluar rombongan pengiring Tang Sin. Rombongan diawali dengan tarian barongsai, kemudian anak-anak dan wanita dewasa yang mengenakan seragam putih bersih yang membawa panji hijau.
Suasana semakin ramai apalagi terik matahari terus menyengat di lokasi sembayang Umat Tri Dharma samping kantor Danramil jalan DI Panjaitan tersebut.
Sontak saja pandangan mata warga Manado semakin kalut dan tegang, tatkala seorang Thang Shin yang di ketahui bernama Fong King Siang keluar dari Klenteng dewa Kwan Kong, sambil melakukan adegan ekstrim dengan memotong dan menikam tubuhnya mengunakan sebilah pedang yang sudah diasah selama sebulan
Adegan mengiris lidah, menusuk jarum kedalam mulut serta memotong beberapa organ tubuh terus di peragakan oleh Thang Shin, meskipun didepan anak-anak kecil yang digendong oleh kedua orang tua mereka.
Ironinya lagi, terhitung beberapa kali, Thang Shin ini harus keluar masuk Klenteng Kwan Kong untuk menambah kekuatan ilmunya karena darah segar terus bercucuran dari mulut akibat ditembusi pedang dan benda tajam.
“Meskipun hanya satu Thang Shin yang keluar namun perayaan Cap Go Meh ini sangat menarik dan seharusnya di pikirkan oleh Pemerintah kota dan Propinsi untuk di masukan dalam kalender tahunan,” ucap Herdy (54) dan RT Thomas (60) warga Pinaesaan.
Lebih jauh mereka mengatakan, perayaan ini tergolong langkah dan perlu dilestarikan sebab perayaan ini sangat di minati oleh turis lokal maupun Mancanegara.
“So pantas kwa kalau perayaan ini dijadikan iven tahunan di Sulut, soalnya depe pengunjung yang datang sangat banyak bahkan ada turis asing,” imbau mereka.
Sementara itu Ketua Yayasan Tri Dharma Hengky Widjaya saat di konfirmasi tentang perayaan suci Goan Siao, mengatakan, perayaan ini sudah menjadi agenda tahunan yang tetap digelar. “Meskipun tahun depan Thang Shin tidak diturunkan namun ivent ini tetap kami gelar,”ucap Hengkie.
Lebih jauh Owner Manado Town Square (Mantos) ini mengatakan, yang menjadi Thang Shin, adalah seorang pekerja swasta didikan klenteng Kwan Kong, sekaligus pelatih wushu. “Ko Siang ini sudah beberapa kali menjadi Thang Shin,” tuturnya.
Perayaan Cap Go Meh yang hanya berputar dilokasi Klenteng berjarak sekitar seratus meter dari arah Klenteng Kwan Kong menuju toko Jantung Hati tersebut berakhir tepat pukul 18.00 wita ini ikut dimeriahkan oleh alunan musik bambu serta Irama Satria Tanawangko kecamatan Tombariri bimbingan Willem Senewe.
“Kalo tiap tahun ada empat orang Thang Shin yang keluar dan keliling pusat kota 45 sudah pasti kondisi kota Manado akan lebih ramai dikunjungi turis Mancanegara,” beber Pak Senewe. (tim )